Setiap bulan Ramadhan tiba seperti sekarang
ini, kita saksikan masjid dan musholla penuh sesak, bahkan ada yang tak mampu
menampung jamaah. Berbagai stasiun TV mengemas acara-acara khusus untuk ikut
meramaikannya. Kantor-kantor, baik instansi pemerintah maupun perusahaan
swasta, juga tidak mau ketinggalan mengadakan kajian-kajian keislaman. Keadaan
ini tentu membanggakan, karena dengan demikian ini pertanda bahwa kehidupan
beragama semakin bergairah. Melubernya jamaah pada bulan Ramadhan,
bersemangatnya media massa, dan instansi-instansi sangat dipengaruhi oleh
keyakinan masyarakat akan keistimewaan
Ramadhan. Siapapun yang yang melaksanakan puasa dan mengisisnya dengan berbagai
ibadah mendapatkan pelipatgandaan pahala dan penghapusan terhadap seluruh dosa yang
pernah dilakukan. Maka, hingar bingar persiapan untuk menyambutnya pun
dilakukan oleh masyarakat dengan berbagai caranya masing-masing.
Ya, puasa Ramadhan memang sangat istimewa.
“Puasa itu untukku, dan Aku yang akan membalasnya” demikian kata Allah dalam
sebuah hadits qudsi. Akan tetapi, apakah dengan demikian lantas puasa itu hanya
bermakna membangun hubungan vertikal semata sehingga ibadah ini tidak memberi
efek apapun bagi kehidupan kita? Tentu saja tidak. Kehadiran Islam di dunia ini
adalah semata-mata untuk membangun kehidupan yang penuh dengan ketentraman dan
kedamaian, maka bisa dipastikan setiap kewajiban yang diberikan oleh Allah pun
dimaksudkan untuk itu. Artinya, puasa mempunyai dampak kesalehan horizontal
yang sangat nyata manakala dipahami bukan hanya sebatas legal formal.
Mari kita perhatikan wejangan Kanjeng Nabi Muhammad bahwa bulan Ramadhan itu
di awalnya adalah rahmah (kasih sayang), di tengahnya adalah maghfirah
(ampunan), dan di akhirnya adalah ‘itqun minannar (bebas dari api
neraka). Apa yang dinasehatkan oleh Kanjeng Nabi ini, kendati banyak
yang memahami secara teologis, kalau kita renungkan mempunyai mempunyai nilai
kesesuaian dengan kehidupan justru ketika kita memakainya sebagai panduan
kehidupan kemasyarakatan.
Ketika kita berada dalam bulan Ramadhan
sebenarnya kita sedang berada dalam wilayah pelatihan pembangunan karakteristik
luhur manusia supaya mendapatkan tata sosial yang penuh dengan kenyamanan dan
kedamaian. Saya menangkap bahwa apa yang dinasehatkan oleh Kanjeng Nabi itu
merupakan sebuah langkah gradual yang sangat arif untuk mewujudkan tata
kehidupan yang baik. Adalah satu hal
yang tidak bisa dipungkiri bahwa keinginan semua pihak dalam kehidupan bersama
adalah kehidupan yang terbebaskan dari
kehancuran, sebagaimana yang digambarkan
oleh Kanjeng Nabi dengan kalimat itqun minannar. Keinginan yang seperti
ini, akan bisa terwujud jikalau terpenuhinya dua komponen dasar bagi
kehidupan bersama yaitu kasih sayang dan kelapangdadaan untuk memberi maaf.
Kebodohan dan kemiskinan adalah kehancuran. Jenis-jenis kehancuran seperrti ini
akan bisa dihindari ketika masyarakat mengedepankan rasa kasih sayang antar
sesama. Suasana disharmoni, ketidakrukunan dan perpecahan juga adalah wujud
kehancuran. Keadaan ini pun tidak perlu terjadi sekiranya seluruh anggota masyarakat
lebih mengedepankan permaafannya terhadap bagian masyarakat lain yang yang
berbeda pandangan dengannya.
Kasih sayang dan memaafkan adalah dua karakteristik luhur yang ada pada
diri manusia yang merupakan turunan dari sifat-sfat Allah. Puasa sesungguhnya
merupakan upaya peneladanan sifat-sifat Allah melalui apa yang ada dalam diri
manusia, pelatihan pengendalian diri dan penanaman kesadaran kemahahadiran
Allah.
Dalam kaitan dengan ini menarikuntuk diperhatikan ucapan Ibnu Sina bahwa seseorang
yang meneladani sifat Tuhan
apabila ia mengajak kepada kebaikan, ia akan mengajak dengan lemah lembut,
bukan dengan kekerasan. Ia menjadi dermawan karena cintanya kepada dunia tak
berbekas lagi. Ia sangat pemaaf, karena dadanya sangat lapang sehingga mampu
menampung kesalahan orang lain. Ia tidak akan mendendam karena ingatannya hanya
kepada Allah.
Semoga puasa kita bisa menjadi pembelajaran untuk
membangun harmoni dalam masyarakat. Wallahu a’lamu bissawab
Tidak ada komentar:
Posting Komentar