Selasa, 11 Desember 2012

PUASA UNTUK HARMONI



Setiap bulan Ramadhan tiba seperti sekarang ini, kita saksikan masjid dan musholla penuh sesak, bahkan ada yang tak mampu menampung jamaah. Berbagai stasiun TV mengemas acara-acara khusus untuk ikut meramaikannya. Kantor-kantor, baik instansi pemerintah maupun perusahaan swasta, juga tidak mau ketinggalan mengadakan kajian-kajian keislaman. Keadaan ini tentu membanggakan, karena dengan demikian ini pertanda bahwa kehidupan beragama semakin bergairah. Melubernya jamaah pada bulan Ramadhan, bersemangatnya media massa, dan instansi-instansi sangat dipengaruhi oleh keyakinan masyarakat  akan keistimewaan Ramadhan. Siapapun yang yang melaksanakan puasa dan mengisisnya dengan berbagai ibadah mendapatkan pelipatgandaan pahala dan penghapusan terhadap seluruh dosa yang pernah dilakukan. Maka, hingar bingar persiapan untuk menyambutnya pun dilakukan oleh masyarakat dengan berbagai caranya masing-masing.

Ya, puasa Ramadhan memang sangat istimewa. “Puasa itu untukku, dan Aku yang akan membalasnya” demikian kata Allah dalam sebuah hadits qudsi. Akan tetapi, apakah dengan demikian lantas puasa itu hanya bermakna membangun hubungan vertikal semata sehingga ibadah ini tidak memberi efek apapun bagi kehidupan kita? Tentu saja tidak. Kehadiran Islam di dunia ini adalah semata-mata untuk membangun kehidupan yang penuh dengan ketentraman dan kedamaian, maka bisa dipastikan setiap kewajiban yang diberikan oleh Allah pun dimaksudkan untuk itu. Artinya, puasa mempunyai dampak kesalehan horizontal yang sangat nyata manakala dipahami bukan hanya sebatas legal formal.

Mari kita perhatikan wejangan  Kanjeng Nabi Muhammad bahwa bulan Ramadhan itu di awalnya adalah rahmah (kasih sayang), di tengahnya adalah maghfirah (ampunan), dan di akhirnya adalah ‘itqun minannar (bebas dari api neraka). Apa yang dinasehatkan oleh Kanjeng Nabi ini, kendati banyak yang memahami secara teologis, kalau kita renungkan mempunyai mempunyai nilai kesesuaian dengan kehidupan justru ketika kita memakainya sebagai panduan kehidupan kemasyarakatan.

Ketika kita berada dalam bulan Ramadhan sebenarnya kita sedang berada dalam wilayah pelatihan pembangunan karakteristik luhur manusia supaya mendapatkan tata sosial yang penuh dengan kenyamanan dan kedamaian. Saya menangkap bahwa apa yang dinasehatkan oleh Kanjeng Nabi itu merupakan sebuah langkah gradual yang sangat arif untuk mewujudkan tata kehidupan yang baik.  Adalah satu hal yang tidak bisa dipungkiri bahwa keinginan semua pihak dalam kehidupan bersama adalah kehidupan yang  terbebaskan dari kehancuran, sebagaimana  yang digambarkan oleh Kanjeng Nabi dengan kalimat itqun minannar. Keinginan yang seperti ini, akan bisa terwujud jikalau terpenuhinya dua komponen dasar bagi kehidupan bersama yaitu kasih sayang dan kelapangdadaan untuk memberi maaf. Kebodohan dan kemiskinan adalah kehancuran. Jenis-jenis kehancuran seperrti ini akan bisa dihindari ketika masyarakat mengedepankan rasa kasih sayang antar sesama. Suasana disharmoni, ketidakrukunan dan perpecahan juga adalah wujud kehancuran. Keadaan ini pun tidak perlu terjadi sekiranya seluruh anggota masyarakat lebih mengedepankan permaafannya terhadap bagian masyarakat lain yang yang berbeda pandangan dengannya.
Kasih sayang dan memaafkan adalah dua karakteristik luhur yang ada pada diri manusia yang merupakan turunan dari sifat-sfat Allah. Puasa sesungguhnya merupakan upaya peneladanan sifat-sifat Allah melalui apa yang ada dalam diri manusia, pelatihan pengendalian diri dan penanaman kesadaran kemahahadiran Allah. Dalam kaitan dengan ini menarikuntuk diperhatikan  ucapan Ibnu Sina bahwa seseorang yang meneladani sifat Tuhan apabila ia mengajak kepada kebaikan, ia akan mengajak dengan lemah lembut, bukan dengan kekerasan. Ia menjadi dermawan karena cintanya kepada dunia tak berbekas lagi. Ia sangat pemaaf, karena dadanya sangat lapang sehingga mampu menampung kesalahan orang lain. Ia tidak akan mendendam karena ingatannya hanya kepada Allah.

Semoga puasa kita bisa menjadi pembelajaran untuk membangun harmoni dalam masyarakat. Wallahu a’lamu bissawab




Tidak ada komentar:

Posting Komentar